EDUKASI
Sabtu, 24 Januari 2015
Jumat, 23 Januari 2015
Sabtu, 18 Oktober 2014
tugas b.inggris instrumen
Nama : Rifki fakhrizal
Nim : 2012134
Kelas : 2a
![]() |
|||
![]() |
English language !!!
1. Blood
presure: Tools for mengekur blood pressure
2. Thermometers:
Tools for measuring body temperature
3. Stateskop:
Tools for hearing voices / sounds in the body
4. Korentang:
Tools for taking sterile instruments
5. Jarungan
large scissors: Scissors for cutting tissue already dead.
6. Artery
clamps anatomical: a tool to clamp the artery
7. Artery
clamps cerugis: a tool to clamp the artery
8. Bandage
Scissors: a tool for cutting bandages
9. Tweezers
cerugis: a tool to take the gauze
10. Anatomical
tweezers: a tool to take the gauze
11. Bisturi
blade and hilt bisturi: knife to dissect
12. Tong
spatel: a tool to pull the tongue
13. Garbu
tuning: a tool for hearing mngetahui.
14. Nal
heating: sewing needles for tissue / skin
15. Güdel:
a tool to support the patient's mouth Coma
16. Vial: injection drug use can be several times
17. Waskom: a place to fill water
18. Kom gauze: a place to put gauze
19. Kom Betadine: Betadine place to manaruh
20. Kom sputum: a place to fill in sputum / phlegm
21. Kom sterile gauze: a place for a sterile gauze
22. Wasped: a tool to provide food
23. Syringe: a tool for injection or inject
24. Abocet: needles for installation inpus
25. Nal: injection needle / syringe
26. Impus hose: hose for impus
Bahasa Indonesia !!!
1. Tensi
meter : Alat untuk mengekur tekanan darah
2. Termometer
: Alat untuk mengukur suhu tubuh
3.
Stateskop
: Alat untuk mendengar suara/bunyi dalam tubuh
4. Korentang
: Alat untuk mengambil alat-alat steril
5. Gunting
Jarungan besar : Gunting untuk memotong jaringan yang sudah mati.
6. Arteri klem anatomis : alat untuk menjepit
arteri
7. Arteri
klem cerugis : alat untuk menjepit arteri
8. Gunting
perban : alat untuk menggunting perban
9. Pinset
cerugis : alat untuk mengambil kasa
10. Pinset
anatomis : alat untuk mengambil kasa
11. Pisau
bisturi dan gagang bisturi : pisau untuk membedah
12. Tong
spatel : alat untuk menarik lidah
13. Garbu
tala : alat untuk mngetahui pendengaran
14. Nal
heating : jarum untuk menjahit jaringan / kulit
15. Gudel
: alat untuk menopang mulut pada pasien yang koma
16. Vial
: obat injeksi dapat beberapa kali pakai
17. Waskom
: tempat untuk mengisi air
18. Kom
kasa : tempat untuk menaruh kasa
19. Kom
betadine : tempat untuk manaruh betadine
20. Kom
sputum : tempat untuk mengisi sputum/dahak
21. Kom
kasa steril : tempat untuk kasa yang steril
22. Wasped
: alat untuk memberikan makanan
23. Spuit
: alat untuk injeksi atau menyuntik
24. Abocet
: jarum untuk pemasangan inpus
25. Nal
: jarum injeksi/suntik
26. Selang
impus : selang untuk impus
KDM
RESUME KEBUTUHAN
DASAR MANUSIA
Dalam rangka memenuhi tugas sebagai berikut:
a) Pemeriksaan fisik HEAD TO TOE
b) NGT
c) Kateter
d) Oral hygine
e) Oksigenasi
f) Infuse
g) Supositoria
h) Merapihkan tempat tidur (ferbeden)
i) Perawatan luka
j) Intra vena
k) Intra cutan
l) Intramuskulare
Akademi Keperawatan Pemerintahan Daerah Kabupaten Serang
PEMERIKSAAN FISIK HEAD TO TOE
Konsep Teori
Pemeriksaan
fisik merupakan peninjauan dari ujung rambut sampai ujung kaki pada setiap
system tubuh yang memberikan informasi objektif tentang klien dan memungkinkan
perawat untuk mebuat penilaian klinis. Keakuratan pemeriksaan fisik
mempengaruhi pemilihan terapi yang diterima klien dan penetuan respon
terhadap terapi tersebut.(Potter dan Perry, 2005)
Pemeriksaan fisik dalah pemeriksaan tubuh
klien secara keseluruhan atau hanya bagian tertentu yang dianggap perlu, untuk
memperoleh data yang sistematif dan komprehensif, memastikan/membuktikan hasil
anamnesa, menentukan masalah dan merencanakan tindakan keperawatan yang tepat
bagi klien. ( Dewi Sartika, 2010)
Adapun teknik-teknik pemeriksaan fisik
yang digunakan adalah:
Inspeksi
Inspeksi
adalah pemeriksaan dengan menggunakan indera penglihatan, pendengaran dan
penciuman. Inspeksi umum dilakukan saat pertama kali bertemu pasien. Suatu
gambaran atau kesan umum mengenai keadaan kesehatan yang di bentuk. Pemeriksaan
kemudian maju ke suatu inspeksi local yang berfokus pada suatu system tunggal
atau bagian dan biasanya mengguankan alat khusus seperto optalomoskop, otoskop,
speculum dan lain-lain. (Laura A.Talbot dan Mary Meyers, 1997) Inspeksi adalah
pemeriksaan yang dilakukan dengan cara melihat bagian tubuh yang diperiksa
melalui pengamatan (mata atau kaca pembesar). (Dewi Sartika, 2010)
Fokus
inspeksi pada setiap bagian tubuh meliputi : ukuran tubuh, warna, bentuk,
posisi, kesimetrisan, lesi, dan penonjolan/pembengkakan.setelah inspeksi perlu
dibandingkan hasil normal dan abnormal bagian tubuh satu dengan bagian tubuh
lainnya.
Palpasi
Palpasi
adalah pemeriksaan dengan menggunakan indera peraba dengan meletakkan tangan
pada bagian tubuh yang dapat di jangkau tangan. Laura A.Talbot dan Mary Meyers,
1997)
Palpasi adalah teknik pemeriksaan yang
menggunakan indera peraba ; tangan dan jari-jari, untuk mendeterminasi ciri2
jaringan atau organ seperti: temperatur, keelastisan, bentuk, ukuran,
kelembaban dan penonjolan.(Dewi Sartika,2010)
Hal yang di deteksi adalah suhu,
kelembaban, tekstur, gerakan, vibrasi, pertumbuhan atau massa, edema, krepitasi
dan sensasi.
Perkusi
Perkusi
adalah pemeriksaan yang meliputi pengetukan permukaan tubuh unutk menghasilkan
bunyi yang akan membantu dalam membantu penentuan densitas, lokasi, dan posisi
struktur di bawahnya.(Laura A.Talbot dan Mary Meyers, 1997)
Perkusi adalah pemeriksaan dengan
jalan mengetuk bagian permukaan tubuh tertentu untuk membandingkan dengan
bagian tubuh lainnya (kiri/kanan) dengan menghasilkan suara, yang bertujuan
untuk mengidentifikasi batas/ lokasi dan konsistensi jaringan. Dewi Sartika,
2010)
Auskultasi
Auskultasi
adalah tindakan mendengarkan bunyi yang ditimbulkan oleh bermacam-macam organ
dan jaringan tubuh.(Laura A.Talbot dan Mary Meyers, 1997)
Auskultasi Adalah pemeriksaan fisik
yang dilakukan dengan cara mendengarkan suara yang dihasilkan oleh tubuh.
Biasanya menggunakan alat yang disebut dengan stetoskop. Hal-hal yang
didengarkan adalah : bunyi jantung, suara nafas, dan bising usus.(Dewi Sartika,
2010)
Dalam melakukan pemeriksaan fisik,
ada prinsip-prinsip yang harus di perhatikan, yaitu sebagai berikut:
a. Kontrol infeksi
Meliputi mencuci tangan, memasang sarung
tangan steril, memasang masker, dan membantu klien mengenakan baju periksa jika
ada.
b. Kontrol lingkungan
Yaitu memastikan ruangan dalam keadaan nyaman, hangat, dan cukup penerangan
untuk melakukan pemeriksaan fisik baik bagi klien maupun bagi pemeriksa itu
sendiri. Misalnya menutup pintu/jendala atau skerem untuk menjaga privacy klien
1.
Komunikasi (penjelasan prosedur)
2.
Privacy dan kenyamanan klien
3.
Sistematis dan konsisten ( head to toe, dr
eksternal ke internal, dr normal ke abN)
4.
Berada di sisi kanan klien
5.
Efisiensi
6.
Dokumentasi
Tujuan Pemeriksaan Fisik
Secara umum, pemeriksaan fisik yang
dilakukan bertujuan:
- Untuk mengumpulkan data dasar tentang kesehatan klien.
- Untuk menambah, mengkonfirmasi, atau menyangkal data yang diperoleh dalam riwayat keperawatan.
- Untuk mengkonfirmasi dan mengidentifikasi diagnosa keperawatan.
- Untuk membuat penilaian klinis tentang perubahan status kesehatan klien dan penatalaksanaan.
- Untuk mengevaluasi hasil fisiologis dari asuhan.
6.
Namun demikian, masing-masing pemeriksaan
juga memiliki tujuan tertentu yang akan di jelaskan nanti di setiap bagian
tibug yang akan di lakukan pemeriksaan fisik.
Manfaat Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan
fisik memiliki banyak manfaat, baik bagi perawat sendiri, maupun bagi profesi
kesehatan lain, diantaranya:
1.
Sebagai data untuk membantu perawat dalam
menegakkan diagnose keperawatan.
2.
Mengetahui masalah kesehatan yang di alami
klien.
3.
Sebagai dasar untuk memilih intervensi
keperawatan yang tepat
4.
Sebagai data untuk mengevaluasi hasil dari
asuhan keperawatan
Indikasi
Mutlak dilakukan pada setiap klien,
tertama pada:
1.
klien yang baru masuk ke tempat pelayanan
kesehatan untuk di rawat.
2.
Secara rutin pada klien yang sedang di
rawat.
3.
Sewaktu-waktu sesuai kebutuhan klien
Prosedur pemeriksaan fisik
Persiapan
a.
Alat
Meteran,
Timbangan BB, Penlight, Steteskop, Tensimeter/spighnomanometer, Thermometer,
Arloji/stopwatch, Refleks Hammer, Otoskop, Handschoon bersih ( jika perlu),
tissue, buku catatan perawat.
Alat diletakkan di dekat tempat tidur
klien yang akan di periksa.
b.
Lingkungan
Pastikan
ruangan dalam keadaan nyaman, hangat, dan cukup penerangan. Misalnya menutup
pintu/jendala atau skerem untuk menjaga privacy klien
c.
Klien (fisik dan fisiologis)
Bantu klien mengenakan baju periksa jika
ada dan anjurkan klien untuk rileks
TEORI
PEMBERIAN OKSIGEN
MEMBERIKAN
O2
PENGERTIAN
Yaitu memasukkan zat asam ( oksigen ) ke dalam paru
– paru melalui saluran pernafasan menggunakan alat khusus .
( Tim Dep Kes RI , 1985 )
TUJUAN
PEMBERIAN O2
1.
Untuk memenuhi kekurangan zat asam (
Oksigen )
2.
Untuk membantu kelancaran metabolisme
3.
Untuk mencegah hypoxsia , misalnya pada
penyelam , penerbang , pendaki gunung , pekerja ambang .
4.
Sebagai tindakan pengobatan
INDIKASI
1.
Dilakukan pada pasien anoxia , hypoxia
2.
Dilakukan pada pasien yang mengalami
kelumpuhan alat – alat pernafasan
3.
Dilakukan pada pasien yang mendapat
trauma paru – paru
4.
Dilakukan pada pasien dalam keadaaan
gawat , coma dan lain – lain
5.
Dilakukan pada pasien yang tiba – tiba
memperlihatkan tanda – tanda syok
KONTRA
INDIKASI
1.
Hindari tindakan yang menyebabkan pasien
merasa sakit
2.
Jauhkan hal – hal yang dapat
membahayakan misalnya menghindari api dan tidak merokok dekat tabung
3.
bila menggunakan masker dihidung
hendaknya diganti tiap 8 jam.
4.
bila menggunakn kedok hidung zat asam
harus terpasang betul, sebelumnya memperhatikan apakah tidak tersumbat atau
bocor.
5.
kedok zat asam harus sering dibersihkan
untuk mencegah bau karet.
6.
harus selalu memakai pelembab udara
(humidifier) untuk melembabkan O2 guna mencegah iritasi selaput lendir alat
pernafasan.
PERSIAPAN
1. Alat
a.
Tabung oksigen
b.
Water of irrigation
c.
Cateter nasal
d.
Flow metter
e.
Gunting plester
f.
Plester
g.
Vaselin
h.
Wastafel
i.
Handuk
j.
Alat tulis
2. Pasien
a.
Pasien diberi penjelasan tentang
tindakan yang akan di lakukan atau setengah duduk
b.
Pasien diposisikan fowler
PROSEDUR
TINDAKAN
1.
Beritahu pasien tindakan yang akan
dilakukan
2.
Siapkan alat secara ergonomic
3.
Pasang sampiran
4.
Cuci tangan dengan sabun dan air
mengalir dan mengeringkan dengan handuk bersih
5.
Atur posisi pasien setengah duduk (
fowler )
6.
Isi gas humidifier dengan water of
irrigation setinggi batas yang tertera
7.
Hubungkan flow meter dengan tabung
oksigen
8.
Cek fungsi flow meter dan humidifier
dengan memutar pengatur konsentrasi O2 dan amati ada tidaknya gelembung udara
dalam gas flow meter
9.
Hubungkan cateter nasal dengan flow
meter
10.
Alirkan oksigen sesuai kebutuhan
11.
Cek aliran cateter nasal dengan
menggunakan punggung tangan untuk mengetahui ada tidaknya aliran oksigen
12.
olesi ujung cateter nasal dengan jelly
13.
Pasang cateter nasal
14.
Bereskan alat dan rapikan pasien
15.
Cuci tangan dengan sabun dan air
mengalir serta mengeringkan dengan handuk
16.
Dokumentasi
TEORI
PEMASANGAN NGT
Pengertian
Yaitu melakukan
selang (tube) dari rongga hidung ke lambung
( Kusyati , Eni ,dkk , 2003 : 105 )
Tujuan
1.
Mengambil specimen pada lambung untuk
studi laboratorium
2.
Mengeluarkan cairan atau isi
lambung dan gas yang ada dalam lambung
3.
Menirrigasi perdarahan atau keracunan
pada lambung
4.
Mencegah atau mengurangi nursea dan
vomiting setelah pembedahan
Indikasi
1.
Pasien yang tidak dapat makan , menelan
, atau pasien tidak sadar .
2.
Pasien yang muntah terus menerus
3.
Bayi dengan berat badan lahir rendah ,
premature atau dismature
Kontra Indikasi
1.
Pada waktu memasukkan pipa lambung atau
memasukkan makanan petugas harus memperhatikan keadaaan umum pasien , apakah
cyanotis , batuk – batuk dan gelisah
2.
Sebaiknya slang NGT dipasang tetap
3.
Cegah udara masuk kedalam lambung sebab
dapat menyebabkan perut kembung
Persiapan
a.
Alat
b.
Sarung tangan
c.
Spuit 20 cc
d.
Plester
e.
Bengkok
f.
Gunting
g.
Tissue
h.
Stetiskop
i.
Slang Nasogatrik ( NGT )
j.
Makanan cair
k.
Teh atau air matang atau jelli
l.
Waskom berisi larutan chlorine 0,5 %
Pasien
Pasien diposisikan setengah duduk ( semi fowler )
Prosedur
Tindakan
a.
Beritahu pasien tindakan yang akan di
lakukan
b.
Menyiapkan alt secara ergonomic
c.
Pasang sampiran
d.
Atur posisi pasien senyaman mungkin
sebaiknya semi fowler
e.
Cuci tangan dengan sabun dan air
mengalir dan mengeringkan dengan handuk
f.
Bersihkan daerah hidung dengan
menggunakan kassa
g.
Pasang kain pengalas diatas dada pasien
h.
Buku kemasan NGT taruh dalam bak
instrument
i.
Pakai sarung tangan
j.
Ukur panjang selang dengan cara pegang
ujung akhir slang setinggi ujung sternum ukur sampai kehidung kemudian belok
ketelingga beri tanda pada slang
k.
Licinkan ujung pipa dengan air dan
bagian pangkal pipa diklem dulu atau licinkan dengan jelly
l.
Masukkan NGT perlahan – lahan sambil
pasien disuruh menelan
m.
Periksa apakah slang NGT benar – benar
masuk ke lambung
n.
Pasang spuit atau corong pada pangkal
pipa , bila sudah yakin pipa masuk lambung
o.
Ambil makanan cair sesuai dosis yang
sudah ditentukan kemudian masuk perlahan – lahan
p.
Klem dulu pipa setelah cairan habis dan
hisap kembali cairan dengan spuit
q.
Tinggilkan pangkal pipa apabila caieran
tidak lancar . Bila pasien perlu minum obat , larutkan obat dan diberikan
sebelum makanan habis
r.
bilas pipa dengan air masak dan pangkal
pipa segera diklem.
s.
letakkan pipa dengan plaster dipipi
,bila NGT dipasang permanent
t.
bereskan alat dan rapikan pasien
u.
lepas sarung tangan dan rendam dalam
larutan klorin 0,5% selama 10 menit
v.
lakukan dokumentasi
EVALUASI
Alat
Peralatan yang digunakan dalam melakukan tindakan
memasang NGT antara teori yang ada dengan praktek dilapangan sudah sesuai .
Pasien
Pasien diberkan tindakan memasang
NGT yaitu untuk memberikan makanan cair kedalam lambung dengan
menggunakan sounde lambung melalui hidung atau mulut
TEORI MEMASANG
KATETER
PENGERTIAN
Memasang kateter adalah
mengeluarkan air seni dari kandung kemih dengan memasukan kateter seteril
memalui uretra.
TUJUAN
PEMASANGAN KATETER
1.
Agar mahasiswa mengerti bagaimana
memasang kateter
2.
mahasiswa terampil dalam mengerjakan
pemasangan kateter.
INDIKASI
1. Pasien
dengan radang kandung kemih
2. Pasien
dengan radang saluran kemih
3. Pasien
pasca bedah kandung kemih
4. Pasien
yang dipasang kateter menetap (dower kateter)
KONTRAINDIKASI
1. Memasukkan
kateter bukan pada vagina
PROSEDUR
TINDAKAN
a)
Memberitahu pasien tidakan yang akan
dilakukan
b)
Menyiapkan alat secara ergonomic
c)
Pasang sampiran
d)
Cuci tangan dengan sabun dan air
mengalir serta mengeringkannya dengan handuk
e)
Atur posisi pasien senyaman mungkin (
dorsal recumbent )
f)
Pasang perlak dibawah bokong pasien
g)
Buka kemasan bungkus kateter dan
tempatkan kateter dibak instrument
h)
Pakai sarung tangan
i)
Lakukan vulva hygiene dengan kapas air
DTT
j)
Olesi ujung cateter dengan jelly atau
vaselin (pada wanita kira-kira sepanjang 4 cm)
k)
Buka libia mayora dengan ibu jari dan
telunjuk tangan yang tidak dominant
l)
masukkan ujung kateter ke uretra, secara
perlahan-lahan menuju kandung kencing, sampai keluar air kencing (dengan tangan
dominant), aliran ke Bangkok atau urinal
m)
Masukkan cairan aquadest ke karet
pengunci kateter sebanyak kira-kira 10 cc untuk mengunci kateter agar tidak
lepas (bila dipasang permanent)
n)
Hubungan pangkal kateter pada kantong
urine
o)
Rekatkan kateter pada paha pasien dengan
plester
p)
Pasang urin bag pada tempat tidur pasien
q)
Rapikan pasien dan bereska alat
r)
Cuci tangan dengan sabun dan air
mengalir serta mengeringkan dengan handuk
s)
Melakukan dokumentasi
TEORI
PEMBERIAN OKSIGEN
MEMBERIKAN
O2
PENGERTIAN
Yaitu memasukkan zat asam ( oksigen ) ke dalam paru
– paru melalui saluran pernafasan menggunakan alat khusus .
TUJUAN
1. Untuk memenuhi
kekurangan zat asam ( Oksigen )
2. Untuk membantu
kelancaran metabolisme
3. Untuk mencegah
hypoxsia , misalnya pada penyelam , penerbang , pendaki gunung , pekerja ambang
.
4. Sebagai
tindakan pengobatan
INDIKASI
1. Dilakukan pada
pasien anoxia , hypoxia
2. Dilakukan pada
pasien yang mengalami kelumpuhan alat – alat pernafasan
3. Dilakukan pada
pasien yang mendapat trauma paru – paru
4. Dilakukan pada
pasien dalam keadaaan gawat , coma dan lain – lain
5. Dilakukan pada
pasien yang tiba – tiba memperlihatkan tanda – tanda syok
KONTRA
INDIKASI
1. Hindari
tindakan yang menyebabkan pasien merasa sakit
2. Jauhkan hal –
hal yang dapat membahayakan misalnya menghindari api dan tidak merokok dekat
tabung
3. bila
menggunakan masker dihidung hendaknya diganti tiap 8 jam.
4. bila
menggunakn kedok hidung zat asam harus terpasang betul, sebelumnya
memperhatikan apakah tidak tersumbat atau bocor.
5. kedok zat asam
harus sering dibersihkan untuk mencegah bau karet.
6. harus selalu
memakai pelembab udara (humidifier) untuk melembabkan O2 guna mencegah iritasi
selaput lendir alat pernafasan.
( Tim Dep Kes RI , 1985 )
PERSIAPAN
1. Alat
a)
Tabung oksigen
b)
Water of irrigation
c)
Cateter nasal
d)
Flow metter
e)
Gunting plester
f)
Plester
g)
Vaselin
h)
Wastafel
i)
Handuk
j)
Alat tulis
2. Pasien
a)
Pasien diberi penjelasan tentang
tindakan yang akan di lakukan atau setengah duduk
b)
Pasien diposisikan fowler
PROSEDUR TINDAKAN
1.
Beritahu pasien tindakan yang akan
dilakukan
2.
Siapkan alat secara ergonomic
3.
Pasang sampiran
4.
Cuci tangan dengan sabun dan air
mengalir dan mengeringkan dengan handuk bersih
5.
Atur posisi pasien setengah duduk (
fowler )
6.
Isi gas humidifier dengan water of
irrigation setinggi batas yang tertera
7.
Hubungkan flow meter dengan tabung
oksigen
8.
Cek fungsi flow meter dan humidifier
dengan memutar pengatur konsentrasi O2 dan amati ada tidaknya gelembung udara
dalam gas flow meter
9.
Hubungkan cateter nasal dengan flow
meter
10.
Alirkan oksigen sesuai kebutuhan
11.
Cek aliran cateter nasal dengan
menggunakan punggung tangan untuk mengetahui ada tidaknya aliran oksigen
12.
olesi ujung cateter nasal dengan jelly
13.
Pasang cateter nasal
14.
Bereskan alat dan rapikan pasien
15.
Cuci tangan dengan sabun dan air
mengalir serta mengeringkan dengan handuk
16.
Dokumentasi
A. Definisi
Pemberian
cairan melalui infus adalah pemberian cairan yang diberikan pada pasien yang
mengalami pengeluran cairan atau nutrisi yang berat. Tindakan ini membutuhkan
kesteril-an mengingat langsung berhubungan dengan pembuluh darah. Pemberian
cairan melalui infus dengan memasukkan kedalam vena (pembuluh darah pasien)
diantaranya vena lengan (vena sefalikabasalika dan mediana kubiti), pada
tungkai (vena safena) atau vena yang ada dikepala, seperti vena temporalis
frontalis (khusus untuk anak-anak).
Selain
pemberian infus pada pasien yang mengalami pengeluaran cairan, juga dapat
dilakukan pada pasien yang membutuhkan pengobatan tertentu.
B. Tujuan
1. Memenuhi
kebutuhan cairan dan elektrolit
2. Infus
pengobatan dan pemberian nutrisi
C. Alat dan Bahan
1. Standart
infus
2. Set
infus
3. Cairan
sesuai program medik
4. Jarum
infus dengan ukuran yang sesuai
5. Tuorniquet
6. Kapas
alkohol
7. Plester
8. Gunting
9. Kassa
10. Bethadine
11. Sarung
tangan
D. Prosedur Kerja
1. Jelaskan
prosedur yang akan dilakukan
2. Cuci
tangan
3. Hubungkan
cairan infus set dengan menusukkan kebagian karet atau akses selang kebotol
infus
4. Isi
cairan kedalam set infus dengan menekan ruang tetesan hingga terisi sebagian
dan buka klem selang hingga cairan memenuhi slang dan udara selang keluar.
5. Letakkan
pengalas di bawah tempat (vena) yang akan dilakukan penginfusan
6. Lakukan
pembendungan dengan tuorniquet (karet pembendung) 10-12 cm diatas tempat
penusukan dan anjurkan pasien untuk menggenggam dengan gerakan sirkular (bila
sadar)
7. Gunakan
Sarung Tangan Steril
8. Desinfeksi
daerah yang akan ditusuk dengan kapas alkohol
9. Lakukan
penusukan pada vena dengan meletakkan ibu jari di bagian bawah vena dan posisi
jarum (abocats) mengarah keatas.
10. Perhatikan
keluarnya darah melalui jarum (abocats/surflo). Apabila saat penusukan terjadi
pengeluaran darah melalui jarum maka tarik keluar bagian dalam (jarum) sambil
meneruskan tusukan ke dalam vena.
11. Setelah
jarum infus bagian dalam dilepaskan, tahan bagian atas vena dengan menekan
menggunakan jari tangan agar darah tak keluar kemudian bagian infus dihubungkan
dengan slang infus
12. Buka
pengatur tetesan dan atur kecepatan sesuai dosis
13. Lakukan
Fiksasi Dengan Kassa Steril
14. Tuliskan
tanggal dan waktu pemasaran infus serta catat ukuran jarum
15. Lepaskan
sarung tangan dan cuci tangan
16. Catat
jenis tetesan cairan,letak infus, kecepatan aliran, ukuran, dan tipe jarum
infus.
SUPOSITORIA
Supositoria adalah suatu bentuk sediaan padat yang berbentuk torpedo,
bentuk ini memiliki kelebihan yaitu bila bagian yang besar masuk melalui otot
penutup dubur, maka supositoria akan tertarik masuk dengan sendirinya (Anief,
2006).
Umumnya, supositoria rectum panjangnya ± 32 mm (1,5 inci), berbentuk
silinder dan kedua ujungnya tajam. Beberapa supositoria untuk rectum
diantaranya ada yang berbentuk seperti peluru, torpedo atau jari-jari kecil
tergantung kepada bobot jenis bahan obat dan habis yang digunakan, beratnya pun
berbeda-beda. USP menetapkan berat supositoria 2 gram untuk orang dewasa
apabila oleum cacao yang digunakan sebagai basis. Sedang supositoria untuk bayi
dan anak-anak, ukuran dan beratnya ½ dari ukuran dan berat untuk orang dewasa,
bentuknya kira-kira seperti pensil. Supositoria untuk vagina yang juga disebut pessarium biasanya
berbentuk bola lonjong atau seperti kerucut, sesuai dengan kompendik resmi
beratnya 5 gram, apabila basisnya oleum cacao. Supositoria untuk saluran urin
yang juga disebut bougie bentuknya ramping seperti pensil,
gunanya untuk dimasukkan ke dalam saluran urin pria atau wanita. Supositoria
saluran urin pria bergaris tengah 3-6 mm dengan panjang ± 140 mm, walaupun
ukuran ini masih bervariasi satu dengan lainnya. Apabila basisnya dari oleum
cacao maka beratnya ± 4 gram. Supositoria untuk saluran urin wanita panjang dan
beratnya ½ dari ukuran untuk pria, panjang ± 70 mm dan beratnya 2 gram dan
basisnya oleum cacao (Ansel, 1989).
Penggunaan obat dalam suppositoria ada keuntungannya dibanding penggunaan obat
per os, yaitu:
1. Dapat menghindari terjadinya iritasi
pada lambung.
2. Dapat menghindari kerusakan obat oleh
enzim pencernaan.
3. Langsung dapat masuk saluran darah
berakibat akan memberi efek lebih cepat daripada penggunaan obat per os.
4. Dapat mempermudah bagi pasien yang
mudah muntah atau tidak sadar.
Bahan dasar yang digunakan supaya melelehkan pada
suhu tubuh atau dapat larut dalam cairan yang ada dalam rektum. Obatnya supaya
larut dalam bahan dasar bila perlu dipanaskan. Bila obatnya sukar larut dalam
bahan dasar maka harus diserbuk yang halus. Setelah obat dan bahan dasar
meleleh dan mencair dituangkan dalam cetakan suppositoria dan didinginkan.
Cetakan tersebut dibuat dari besi yang dilapisi nikel atau dari logam lain ,
ada juga yang dibuat dari plastik. Cetakan ini mudah dibuka secara longitudinal
untuk mengeluarkan suppositoria. ( IMO . Hal 158)
2.2 Macam
suppositoria
Farmakope membedakan tiga macam Suppositoria
A. Suppositoria dengan bahan dasar lemak coklat
(Oleum cacao)
Lemak coklat merupakan trigliserida, berwarna kekuningan , bau yang khas.
Jika dipanasi sekitar 300 mulai mencair dan biasanya meleleh
sekitar 340 - 350 C, tetapi pada suhu dibawah
300 merupakan masa semi padat dan merupakan bagian nyata dari
cairan. Dan yang cair diikat dengan tenaga tegangan muka. Jika tentang
suppositoria yang harus dibuat , tidak dikatakan apa-apa yang penting, maka
suppositoria dibuat dengan Oleum cacao boleh diganti dengan malam kuning atau
unguentum simplex. Selanjutnya Farmakope menyatakan, bahwa menurut
sifatnya obat harus dilarutkan atau dibagikan dalam air sebelum
dicampurkan dengan oleum cacao.
Hal-hal yang harus diperhatikan sebagai berikut:
Penggantian sebagian dari Oleum cacao dengan Unguentum
simplex pada umumnya tidak perlu dan hanya dipergunakan :
1. Jika suatu obat padat harus kita olah
dalam suppositoria, tidak dilarutkan atau tidak digerus dengan air, seperti:
Folia digitalis, Diuretin, tanin dsb. Kedalam golongan ini tentu termasuk pula
obat-obatan yang harus diolah secara kering, karena satu sama lainnya bereaksi,
misalnya: Kalomel dengan Hydrochloras Cocaini.
2. Jika suppositoria itu, karena sifat
obatnya tak dapat dibuat dengan suatu pengempa hal ini teroritik kita jumpai,
jika ada garam-garam dari bagian-bagian, yang dalam deret potensial terletak
dibawah timah, tetapi dalam prakteknya hanya peru suppositoria dengan raksa
sublimat, dan perak nitrat. Maka suppositoria itu harus dibuat dengan tangan
dan untuk ini kita perlukan masa yang lebih lunak daripada masa yang harus
dibuat dengan pengempaan.
3. Jika suppositoria tidak dikempa satu
persatu dengan pengempa tetapi seluruh masnya dibuat dengan batang yang panjang
dengan suatu kempa batang dan masing-masing bagian di runcingkan dengan tangan.
Jika dipakai Unguentum simplex, maka untuk ini kita ambil
sebanyak-banyaknya 5% dari masa seluruhnya.
Penggantian
sebagian dari Oleum cacao dengan malam kuning jarang diperlukan, kebanyakan
jika persenyawaan-persenyawaan yang harus diolah dalam masa mencair dengan
Oleum cacao, seperti: Hydras Chlorali, Chloretum ferricum dll. Banyak Cera
flava yang dibutuhkan sangat bergantung kepada banyaknya obat sepeti itu,
sebaliknya jangan dilupakan bahwa masa harus mencair pada kurang lebih 370,
jadi tak boleh banyak mengandung cera flava. Cera flava yang
kurang dari 4% tak dapat dipergunakan karena campuran Cera flava dengan Oleum
cacao harus mempunyai titik cair yang lebih tinggi dari pada titik cair Oleum
cacao sendiri. Dengan 6% Cera falava titik cairnya 370diperlukan
lebih banyak, karena penambahan obat itu menyebabkan penurunan titik cair yang
besar.
Pembagian obat dalam masa, seperti diatas tidak selamanya
berlangsung dengan cara yang sederhana yang ditunjukkan Farmakope . cara yang
sederhana inilah yang kita pakai peraturan-peraturan yang sama seperti
pembagian obat dalam masa salep, tetapi denga pembatasan bahwa disini kita
hanya dapat mengikat air sedikit. Karena itu dalam hal ini antipirina dan resorsin
dalam jumlah yang besar tidak dilarutkan dalam air, tetapi senyawa yang telah
diserbuk B40 itu digerus dengan air.
Jika dalam suppositoria jumlah protargol lebih dari 5%, maka haruslah
diolah secara kering . jumlah yang lebih kecil dapat dilarutkan dalam air yang
bobotnya sama.
Dari petunjuk dalam
Farmakope bahwa dikehendaki supaya obat yang berkhasiat dalam jumlah yang kecil
digerus dengan air, karena itu kita pakai sebagai peraturan: garam-garam
alkaloida selalu digerus dengan beberapa tetes air.
Suppositoria dengan Oleum cacao untuk orang dewasa bobotnya 3g dan untuk
anak-anak 2g. Pada pembuatanya kita selalu mengambil masa untuk satu
suppositoria lebih banyak daripada yang harus kita serahkan. Jika pada
pembuatan suppositoria ini harus dituang suatu masa yang mencair, dapat kita
tuangkan kedalam cetakan-cetakan logam. Yang telah diulas dengan sedikit
spiritus saponatus atau kita tuangkan kedalam cetakan plastik yang sekarang ada
diperdagangan. Cetakan-cetakan ini gunanya untuk diberikan dengan
suppositorianya. Jadi berlaku sebagai bahan pembungkus. Tetapi cetakan-cetakkan
plastik ini tidak dapat pula dipakai berulang-ulang. Pada waktu menuangkan
seingkali kehilangannya lebih besar, maka dari itu kita harus membuatnya sangat
berlebih.
Nilai tukar dimaksudkan untuk mengetahui bobot lemak coklat yang mempunyai
volume yang sama dengan 1 g obat (Syamsuni, 2007).
Nilai tukar lemak coklat untuk 1 g obat, yaitu :
Acidum boricum :
0,65
Aethylis aminobenzoas
: 0,68
Garam alkaloid
:
0,7
Aminophylinum
: 0,86
Bismuthi subgallus :
0,37
Bismuthi
subnitras
: 0,20
Ichtammolum
:
0,72
Sulfonamidum
: 0,60
Tanninum
:
0,68
Zinci oxydum
: 0,25
B. Suppositoria dengan masa gelatin
Tentang suppositoria ini, Farmakope hanya mengatakan bahwa untuk
pembuatannya kita dapat memakai petunjuk yang diberikan pada Bacilla
gelatinosa. Jadi ini berarti pula, bahwa sedapat mungkin kita harus melarutkan
obatnya dalam air. Bahkan Farmakope mengatakan terlebih dahulu, tetapi oleh
karena gelatina tidak tahan terhadap penghangatan dengan senyawa-senyawa yang
bereaksi asam, maka lebih baik obatnya kita larutkan dalam air yang disisihkan.
Untuk pembuatan
suppositoria ini, kita bekerja sebagai berikut: dalam bool yang telah ditara,
mula-mula kita menimbang air yang dapat segera dipakai, kemudian gliserolnya,
kocok baik-baik dan tambahkan serbuk gelatina, setelah segera kita mengkocoknya
kuat-kuat. Setelah kita membiarkan selama 20menit , cairan itu
diserap oleh gelatina, botol dengan isinya kita hangatkan dalam bejana gelas
yang berisi air.
Segera setelah masa mencair, kita mengocoknya kuat-kuat dan biarkan botol
itu beberapa lama dalam air hangat untuk mengeluarkan udara dari dalamnya.
Sekarang kita tambahkan obat yang telah dilarutkan dalam air, buat sampai bobot
seharusnya, kemudian kocok hati-hati supaya obat terbagi rata dalam masa itu,
tanpa memasukan udara kedalamnya. Akhirnya kita menimbangnya dalam
cetakkan-cetakkan yang cukup, baik yang terbuat dari kertas lilin, maupun dari
cetakkan logam yang diulas dengan paraffinum liquidum. Sebaiknya obat-obat yang
dapat larut terlebih dahulu dilarutkan kecuali senyawa-senyawa yang bereaksi
asam.
C. Suppositoria dengan bahan dasar P.E.G
P.E.G adalah Polyaethylenglycolum merupakan polimerisasi etilenglikol
dengan berat molekul 300 – 6000. P.E.G dibawah 1000 adalah cair sedangkan
diatas 1000 adalah padat lunak seperti malam. Keuntungnnya dari bahan dasar
P.E.G adalah mudah larut dalam cairan dalam rektum, dan tidak ada modifikasi
titik lebur yang berarti tidak mudah meleleh pada penyimpanan suhu kamar. (Ilmu
resep. Hal 141)
Macam suppositoria berdasarkan penggunaanya
1. Suppositoria rektal, sering disebut
sebagai suppositoria saja, bentuk peluru, digunakan lewat rektum atau anus.
Untuk dewasa 3g dan untuk anak-anak 2g. Suppositoria rektal berbentuk torpedo
mempunyai keunggulan yaitu jika dibagian yang besar masuk melalui jaringan otot
penutup dubur, suppositoria akan masuk dengan sendirinya.
2. Suppositoria vaginal atau ovula,
berbentuk bola lonjong seperti kerucut, digunakan untuk vagina. Berat antara 3
– 5g . umumnya 5g. Suppositoria vaginal dengan bahan dasar yang dapat larut
atau dapat bercampur dalam air seperti PEG atau gelatin tergliserensi memiliki
bobot 5g. Suppositoria dengan bahan gelatin tergliseransi (70bagian gliserin, 20bagian
gelatin, 10bagian air) harus dismpan dalam wadah yang tertutup rapat, sebaiknya
pada suhu dibawah 350C.
3. Suppositoria uretra digunakan lewat
uretra, berbentuk batang dengan panjang antara 7-14cm.
2.3 Basis
suppositoria
Obat yang larut dalam air dan berada dalam basis lemak akan segera
dilepaskan kecairan rektum jika basis dapat segera terlepas setelah masuk
kedalam rektum, obat segera diabsorbsi dan aksi kerja awal obat akan segera
muncul. Jika obat larut dalam air dan terdapat dalam basis larut air, aksi
kerja awal obat akan segera muncul jika basis tadi cepat larut dalam air.
Faktor fisika – kimia obat :
1. Kadar obat dalam basis : jika kadar
obat makin besar,arbsobsi obat semakin cepat.
2. Kelarutan obat : obat yang nudah
larut dalam lemak akan lebih cepat terarbsobsi daripada obat yang larut dalam
air.
3. Ukuran partikel obat : ukuran
partikel pada obat akan mempengaruhi kecepatan larutnya obat kecairan rektum.
(Syamsuni. Hal)
2.4
Persyaratan Basis Supositoria
Secara fisiologis netral (tidak menimbulkan rangsangan pada
usus; hal ini dapat disebabkan oleh masa yang tidak fisiologis atau tengik,
terlalu keras, juga karena kasarnya bahan obat)
Secara kimia netral (tidak tersatukan dengan bahan obat)
Tanpa alotropisme (modifikasi yang tidak setabil)
Interval yang rendah antara titik lebur dan titik beku
(pembekuan masa berlangsung cepat dalam cetakan, kontraksibilitasnya baik,
mencegah pendinginan mendadak dalam cetakan)
Interval yang rendah antar titik lebur mengalir dengan titik
lebur jernih (sangat penting artinya bagi kemantapan bentuk dan juga daya
penyimpananya, khususnya pada suhu tinggi)
Visikositas yang memadai (mampu mengurangi sedimentasi bahan
tersuspensi, tingginya ketepatan takaran)
Supositoria sebaiknya melebur dalam beberapa menit pada suhu
tubuh atau melarut (persyaratan untuk kerja obat)
Pembebasan dan resorpsi obat yang baik
Daya tahan dan daya penyimpanan yang baik (tanpa ketengikan,
perwarnaan, pengerasan, kemantapan bentuk, daya patah yang baik dan stabilitas
yang memadai dari bahan obat)
Daya serap terhadap cairan lipofil dan hidrofil.
2.5
Monografi
Aminophyllinum (Aminofilin)
Pemerian : Butir
atau serbuk putih atau agak kekuningan, bau amonia lemah, rasa pahit. Jika
dibiarkan diudara terbuka, perlahan-lahan akan kehilangan etilenadiamina dan
menyerap karbon dioksida dengan melepaskan teofilin. Larutan bersifat basa
terhadap kertas lakmus .
Kelarutan : tidak
larut dalam etanol dan dalam eter. Larutan 1g dalam 25ml air menghasilkan
larutan jernih, larutan 1g dalam 5ml air menghablur jika didiamkan dan larut
kembali jika ditambah sedikit etilenadiamina.
Khasiat :
bronkodilator (obat asma) efek sistemik.
Titik lebur :
Oleum cacao
Pemerian : merupakan
trigliserida dari asam oleat, asam stearat, asam palmitat, berwarna putih
kekuningan, padat, berbau seperti coklat dan meleleh pada suhu 310 –
340C.
Kelarutan : sukar
larut dalam etanol (95% P) mudahlarut dalam kloroform P, dalam eter P dan dalam
eter minyak tanah P.
Khasiat : zat
tambahan.
Titik lebur : 300 –
360C
Bisacodylum (Bisakodil)
Pemerian : serbuk
hablur, putih sampai hampir putih terutama terdiri dari partikel dengan
diameter terpanjang lebih kecil dari 50µm.
Kelarutan : praktis
tidak larut dalam air, larut dalam kloroform dan dalam benzena, agak sukar
larut dalam etanol dan dalam metanol, sukar larut dalam eter.
Khasiat : laksatif
Cetacum (Spermaceti)
Pemerian : Malam padat murni diperoleh
dari minyak lemak yang terdapat pada kepala lemak dan badan Physeter Catodon L.
Hyperoodan costralos Muller (Billberg). Massa hablur, bening, licin, putih
mutiara; baud an rasa lemah.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam
air dan dalam etanol 95% P dingin; larut dalam 20 bagian etanol 95% P mendidih,
dalam kloroform P, dalam eter P, dalam karbondisulfida P, dalam minyak, dan
dalam minyak atsiri.
Titik lebur : 42o sampai
50o
2.6 Alasan
Pemilihan Bahan
Penggunaan oleum cacao merupakan triglesirida dari asam oleat
sehingga sangat cocok untuk menjadi basis dari bahan aminophylin. Selain itu
oleum cacao bersifat polimorf (mempunyai banyak bentuk kristal) pada suhu
300C akan mulai mencair dan meleleh pada 340C – 350C.
Dalam
resep ditambahkan cetaceum untuk menaikkan titik lebur lemak coklat,penambahan
tidak boleh lebih dari 6% karena akan menghasilkan campuran yang titik lebur
diatas 37oC dan tidak boleh kurang dari 4% karena titik lebur akan
dibawah kurang dari 33oC.
Pada
pengisian massa supositoria ke dalam cetakan,lemak coklat cepat membeku dan
pada pendinginan terjadi susut volume hingga terjadi lubang di atas masa,maka
pada pengisian cetakan harus diisi lebih (10%), baru setelah dingin
kelebihannya dipotong.
Keuntungan sediaan suppositoria dibandingkan sediaan peroral .
Obat dapat masuk langsung kedalam saluran darah sehingga lebih cepat kepusat
reseptor daripada penggunaan obat peroral. Selain itu dapat menghindari terjadinya
iritasi pada lambung. Dan tidak memberikan efek samping obat.
Mekanisme
pencahar :
Mekanisme
dasar zat yang pembentuk massa sebagai pencahar ialah karena efeknya yang
menyebabkan distensi usus akibat volume isi usus menjadi lebih besar.pencahar
membentuk massa bekerja dengan mengikat air dan ion dalam lumen usus
besar.supositoria merangsang peristaltik usus dan tinja tetap lunak dan banyak
mengandung air sehingga mudah dikeluarkan.
2.7 Metode
Pembuatan Suppositoria
1. Dengan tangan
Pembuatan dengan tangan hanya dapat dikerjakkan untuk suppositoria yang
menggunakan bahan dasar oleum cacaco berskala kecil, dan jika bahan obat tidak
tahan terhadap pemanasan. Metode ini kurang cocock untuk iklim panas.
2. Dengan mencetak hasil leburan
Cetakkan harus dibasahi lebih dahulu dengan parafin cair yang memakai bahan
dasar gliserin dan gelatin. Tetapi untuk oleum cacao dan PEG tidak dibasahi
karena akan mengerut pada proses pendinginan dan mudah dilepas dari cetakan.
3. Dengan kompresi
Pada metode ini, proses penuangan, pendinginan dan pelepasan suppositoria
dilakukan dengan mesin secara otomatis. Kapasitas bisa sampai 3500-6000
suppositoria/jam.
2.8
Cara pemberian
Pemberian obat dengan sediaan suppositoria dengan memasukkan obat melalui
anus atau rektum dalam bentuk suppositoria
Petunjuk pemakaian : Cuci tangan sampai bersih, buka pembungkus
suppositoria, kemudian tidur dengan posisi miring. Supositoria dimasukkan ke
rektum dengan cara bagian ujung supositoria didorong dengan ujung jari,
kira-kira ½ - 1 inci pada bayi dan 1 inci pada dewasa, bila perlu ujung
supositoria di beri air untuk mempermudah penggunaan. Untuk nyeri dan demam
satu supositoria diberikan setiap 4 – 6 jam jika diperlukan. Gunakan
supositoria ini 15 menit setelah buang air besar atau tahan pengeluaran air
besar selama 30 menit setelah pemakaian supositoria.
Hanya untuk pemakaian rektal. Hentikan penggunaan dan hubungi dokter jika
sakit berlanjut hingga 3 hari. Jauhkan dari jangkauan anak-anak. Jika tertelan
atau terjadi over dosis segera hubungi dokter (Monson, 2007)
2.9
Pemeriksaan Mutu suppositoria
Setelah dicetak, dilakukan pemeriksaan sebagai berikut :
1. Penetapan kadar zat aktifnya dan
disesuaikan dengan yang tertera pada etiketnya.
2. Uji terhadap titk leburnya, terutama
jika menggunakan bahan dasar oleum cacao.
3. Uji kerapuhan, untuk menghindari
kerapuhan selama pengangkutan.
4. Uji waktu hancur, untuk PEG 1000
15menit, sedangkan untuk oleum cacao dingin 3menit.
5. Uji homogenitas.
MENYIAPKAN TEMPAT
TIDUR/ VERBEDENT
A. Pengertian
Merupakan tindakan keperawatan
kebersihan lingkungan dalam mempersiapkan tempat tidur bagi klien.
B. Tujuan
o
Mempersiapkan tempat tidur agar siap
pakai
o
Memberikan kenyamanan dan keamanan bagi
pasien.
C. Alat dan
bahan
o
Tempat tidur, kasur dan bantal
o
Seprei besar
o
Seprei kecil
o
Sarung bantal
o
Perlak
o
Selimut
D. Prosedur kerja
o
Cuci tangan
o
Atur tempat tidur, kasur, dan bantal.
o
Pasang seprei besar dengan garis tengah
lipatan tepat ditengah kasur/tempat tidur
o
Atur sisi kedua samping seprei atau
tempat tidur dengan sudut 90 derajat, lalu masukkan kebawah kasur
o
Pasang perlak ditengah tempat tidur
o
Pasang seprei kecil diatas perlak
o
Lipat selimu menjadi empat secara
terbalik dan pasang bagian bawah. masukkan ujung selimut ke bawah kasur.
o
Pasang sarung bantal
o
Cuci tangan.
MEMINDAHKAN PASIEN
DARI TEMPAT TIDUR KE BRANGKAR
A. Pengertian:
Adalah memindahkan
pasien yang mengalami ketidakmampuan, keterbatasan, tidak boleh melakkukan
sendiri, atau tidak sadar dari tempat tidur ke brankar yang dilakukan
oleh dua atau tiga orang perawat.
B. Tujuan:
Memindahkan pasien antar ruangan untuk
tujuan tertentu (misalnya pemeriksaan diagnostik, pindah ruangan, dll.)
C. Alat dan
Bahan :
- Brankar
- Bantal bila perlu
D. Prosedur :
- Ikuti protokol standar
- Atur brankar dalam posisi terkunci dengan sudut 90 derajat terhadap tempat tidur
- Dua atau tiga orang perawat menghadap ke tempat tidur/pasien
- Silangkan tangan pasien ke depan dada
- Tekuk lutut anda , kemudian masukkan tangan anda ke bawah tubuh pasien
- Perawat pertama meletakkan tangan dibawah leher/bahu dan bawah pinggang, perawat kedua meletakkan tangan di bawah pinggang dan panggul pasien, sedangkan perawat ketiga meletakkan tangan dibawah pinggul dan kaki.
- Pada hitungan ketiga, angkat pasien bersama-sama dan pindahkan ke brankar
- Atur posisi pasien, dan pasang pengaman.
- Lengkapi akhir protokol.
CARA KERJA TINDAKAN
MEMBERESKAN TEMPAT TIDUR PASIEN/ VERBEDENT
1.
Menyiapkan tempat tidur tanpa pasien
2.
Cuci tangan
3.
Letakkan seprei dengan lipatan memanjang
dengan garis tengahnya untuk menentukan tengah-tengah tempat tidur
4.
Masukkan seprei bagian kepala ke bawah
kasur kira-kira 30 cm.
5.
Masukkan seprei bagian kaki ± 25 cm,
lalu kita membuat sudut dari kepala, terus ke bagian kaki.
6.
Masukkan sisi-sisi dari seprei ke bawah
kasur.
7.
Letakkan perlak melintang ± 50 cm dari
garis kasur bagian kepala, lalu dimasukkan ke bawah kasur bersama-sama.
8.
Letakkan selimut ± 15 cm dari garis
kasur bagian kepala, masukkan selimut bagian kaki ke bawah kasur bersama-sama.
9.
Sarung bantal dipasang, bantal
diletakkan dengan bagian yang tertutup kejurusan pintu.
10.
Bereskan alat-alat lalu cuci tangan
Cara Melipat Seprei atau Selimut:
1. Melipat Sisi dengan Cara “mitred corners”
Selipkan seprei di bagian bawah tempat
tidur dan biarkan bagian sisi lepas. Angkat sisi seprei, sekitar 45 cm (18
inchi) dari sudut ranjang. Selipkan bagian top sheet yang tergantung lepas
dekat sudut tempat tidur. Sisi seprei lipat ke bawah tempat tidur
2. Melipat Seprei atau Selimut di Tempat Tidur
Setelah seprei atau selimut dipasang di
atas tempat tidur angkat dulu bagian tengah bawah sekitar 30 cm (12 inchi) ke
atas sebelum anda selipkan ke bawah kasur. Kemudian lipat ke satu sisi
sedemikian rupa sehingga merupakan ploi bara selipkan seprei atau selimut
tersebut ke bawah kasur.
Mengganti Sarung Bantal
Masukkan tangan ke dalam sarung bantal,
pegang sudut-sudut terjauh bantal tersebut lalu lipatkan posisinya di dalam
sarung bantal. Secara bertahap masukkan bantal ke dalam sarungnya.
Membereskan tempat
tidur yang ditempati pasien
A. Oleh
satu perawat
1. Tempatkan kursi memunggungi sisi bawah tempat tidur.
2. Lepaskan alas pada satu sisi tempat tidur, baru pada sisi yang lain.
3. Angkat semua bantal kecuali satu.
4. Lepaskan sarung bantal, letakkan bantal di kursi.
Mengganti alas tempat
tidur (seprei)
1.
Rapikan penutup kasur.
2.
Letakkan seprei bersihseparuh tergulung
memanjang menyebelah gulungan seprei kotor. Selipkan separuh seprei dan atur
sudutnya dengan cara “mitre”.
3.
Kalau menggunakan alas plastik gulung di
setengah bagian tempat tidur lalu selipkan. Jika menggunakan alas khsus yang
prelu diganti, tempatkan dahulu yang bersih setengah tergulung memanjang di
samping yang kotor dan selipkan separuh sisanya. Kalau alas khusus ini bersih,
tarik dan selipkan.
4.
Palingkan pasien sehingga berbaring pada
punggung, melewati kain yang tergulung terus ke sisi yang lain.tarik bantal
perlahan ke sisi anda dan jaga agar kepala pasien tetap di atas bantal.
5.
Pergilah ke sisi lain tempat tidur,
tarik dan angkat alas yang kotor, luruskan penutup kasur. Kalau alas masih
bersih dan tidak perlu diganti maka luruskan. “mitre” sudut-sudutnya dan
selipkan di bawah kasur. Tarik masuk alas khusus dan lapis plastiknya lalu
selipkan.
6.
Kalau anda mengganti seprei, gulung seprei
yang bersih.selipkan dan susun sudutnya
dengan cara “mitre”. Lepaskan kembali gulungan dan selipkan lapisan plastik dan
alas khusus tersebut.
7.
Gulingkan pasien agar berbaring
terlentang di tengah tempat tidur. Tempatkan pada posisi yang nyaman. Ganti
sarung bantal apabila perlu dan tempatkan kembali.
Menggantikan selimut
Angkat tutup atas atau selimut yang menutupi pasien, kalau memang ada.
Ganti dengan yang bersih apabila perlu. Bereskan tempat tidur, lipat tutup atas
atau selimut dan “mitre” sudutnya. Lipat tutup atas di atas bedcover. Ganti
tutup atas dan duvet sesuai kondisi.
Perhatikan agar pasien cukup nyaman.
Penanganan Akhir
Bersihkan semua peralatan. Letakkan
kembali perabot yang tadi dipindahkan. Jangan lupa untuk mencuci tangan.
B. Oleh dua perawat
1.
Tempatkan kursi memunggungi tempat
tidur.
2.
Lepaskan semua alas.
3.
Angkat semua bantal kecuali satu.
Lepaskan sarungnya. Letakkan di atas kursi.
4.
Angkat selimut dan alas teratas secara
terpisah. Lipat sepertiga atas sampai ke tengah, juga sepertiga bagian bawah.
Angkat bersama-sama dan letakkan di atas kursi. Masukkan kain di keranjang atau
kantung plastik. Biarkan pasien tertutup satu lapis alas dan selimut kalau
ruangan cukup dingin.
5.
Palingkan ke satu sisi tempat tidur.
Perhatikan agar kepalanya terletak di atas bantal dan kakinya tertopang dengan
baik
6.
Pegang pasien kuat-kuat saat dia berada
di pinggir tempat tidur, yang lain menggulung setiap alas secara terpisah ke
bagian tengah tempat tidur Kalau tidak di pasang yang baru, betulkan yang lama
agar tidak berkerut. Buang semua kotoran yang ada di atas.
Mengganti alas tempat
tidur (sprei)
1.
Rapikan penutup kasur.
2.
Pasang sprei separuh tergulung memanjang
di sebelah yang kotor. Selipkan separuh sprei dan atur sudutnya dengan
menyelipkannya
3.
Kalau anda menggunakan alas plastik maka
gulung tengah tempat tidur lalu selipkan. Kalau menggunakan alas yang perlu dig
anti, tempatkan alas setengah tergulung memanjang, di samping alas kotor dan
selipkan sisanya Kalau alas khusus ini bersih, tarik dan selipkan.
4.
Pindahkan bantal ke sisi lain, palingkan
pasien ke atas kain tersebut ke sisi yang lain.
5.
Tarik dan angkat alas yang kotor.
Luruskan penutup kasur. Kalau alas masih bersih dan tak perlu diganti, rapikan
sudut-sudutnya dan selipkan di bawah kasur. Tarik masuk alas khusus dan lapis
plastiknya lalu selipkan.
6.
Kalau anda mengganti sprei, gulung
sprei, selipkan dan rapikan sudutnya. Lepaskan kembali gulungan dan selipkan
lapisan plastik alas khusus tersebut.
7.
Gulingkan pasien agar terbaring
terlentang di tengah tempat tidur, ganti sarung bantal jika perlu.
Mengganti tutup atas
tempat tidur
1.
Angkat tutup atas atau selimut yang
menutupi pasien. Ganti dengan yang bersih. Bereskan tempat
tidur, lipat tutup atas dan selimut, rapikan sudutnya. Lipat di atas bedcover.
2.
Perhatikan agar pasien cukup nyaman.
Penanganan Akhir
Bersihkan semua peralatan dan kembalikan
perabot yang tadi dipindahkan. Jangan lupa untuk mencuci tangan.
Membereskan tempat tidur
pada pasien yang tidak dapat berbaring terlentang.
Jika kita mengurus seseorang yang tidak
mampu berbaring terlentang ataupun keluar tempat tidur, maka sebaiknya
modifikasi prosedur yang dijelaskan untuk tempat tidur yang ditempati pasien
yang dapat berbaring.
1.
Jangan palingkan pasien ke satu
sisi. Tapi angkat dan dudukkan di ujung tempat tidur dengan kaki menggantung ke
satu sisi
2.
Topang kaki yang menggantung itu dengan
meja penopang khusus atau kursi kalau tingginya memang sesuai.
3.
Gulung semua alas ke bawah sampai ke
bagian tengah tempat tidur.
4.
Setelah beres pindahkan pasien ke bagian
atas tempat tidur dan dudukkan pada posisi yang nyaman sementara kita
mengangkat alas yang kotor dan membereskan bagian bawah.
5.
Kalau bekerja sendiri gunakan bantal
untuk menopang punggung pasien disaat pasien duduk.
6.
Tugas kita akan lebih mudah jika ada
yang membantu. Maka satu orang dapat menopang pasien sementara yang lain
mengangkat alas yang kotor dan membereskan tempat tidur
MENYIAPKAN
TEMPAT TIDUR (VERBEDENT)
Menyiapkan tempat
tidur / verbedent ditujukan untuk memberikan kenyamanan, kerapihan dan
kebersihan pada pasien. Tindakan ini bisa dilakukan tanpa pasien ditempat tidur
atau dengan pasien ditempat tidur.
Peralatan dan
Perlengkapan:
Ø Sprei/laken
Ø
Stakelaken
Ø
Perlak
Ø
Selimut
Ø
Sarung bantal
Ø Tempat alat tenun kotor
VERBEDENT TANPA
PASIEN DIATASNYA
v
Menjelaskan pada pasien bahwa tempat
tidurnya mau dirapikan
v
Menyiapkan alat secara ergonomis
v
Mencuci tangan dengan sabun dan air
mengalir, mengeringkan dengan handuk bersih
v
Mempersilahkan dan membantu pasien untuk
turun dari tempat tidur dan duduk di kursi (pada pasien
yang mampu)
v
Mengambil selimut,perlak,sarung bantal
dan laken/sprei dari tempat yidur klien dan memasukkan pada tempat alat tenun
kotor
v
Mengatur posisi kasur ketengah tempat
tidur
v
Memasang sprei dengan garis tengah
lipstan tepat ditengah kasur
v
Memasukkan sprei bagian kepala kebawah
kasur
v
Memasukkan sprei bagian kaki ke bawah
kasur
v
Melipat sprei pada sudut-sudut tempat
tidur membentuk sudut 45 derajat
v
Memasukkan sprei bagian samping ke bawah
kasur.
v
Memasang perlak ditengah tempat tidur
v
Memasang steklaken diatas perlak
v
Memasukkan steklaken dan perlak bagian
samping ke bawah kasur
v
Melipat selimut menjadi 4 bagian secara
terbalik
v
Memasukkan lipatan teratas kebawah kasur
v
Memasang sarung bantal dan meletakkan
ketempat tidur
v
Mempersilahkan/membantu pasien naik
ketempat tidur
v
Menyelimuti pasien
v
Membereskan alat
v
Mencuci tangan dengan sabun dan air
mengalir,mengeringkan dengan handuk bersih
v VERBEDENT DENGAN PASIEN DIATASNYA
v
Memberitahu dan menjelaskan pada pasien
bahwa tempat tidurnya mau dirapikan
v
Menyiapkan alat secara ergonomis
v
Mencuci tangan dengan sabun dan air
mengalir,mengeringkan dengan handuk bersih
v
Mempersilahkan dan mengatur posisi
pasien untuk miring membelakangi bidan
v
Mengambil selimut dan bantal pasien
v
Melepas perlak,steklaken,laken/sprei
dari tempat tidur klien yang dekat dengan bidan dan menggulungnya kearah tubuh
klien
v
Memasang sprei bersih pada bagian yang
dekat bidan dengan garis tengah lipatan tepat ditengah kasur
v
Memasukkan sprei bagian kepala kebawah
kasur
v
Memasukkan sprei bagian kaki kebawah
kasur
v
Melipat sprei pada sudut-sudut tempat
tidur membentuk sudut 45 derajat
v
Memasukkan sprei bagian samping yang
dekat dengan bidan kebawah kasur
v
Memasang perlak ditengah tempat tidur
pada bagian yang dekat dengan bidan
v
Memasang steklaken diatas perlak pada
bagian yang dekat dengan bidan
v
Memasukkan sisi perlak dan steklaken
bagian samping yang dekat dengan bidan kebawah kasur
v
Mempersilahkan dan membantu pasien untuk
miring kearah bidan
v
Mengambil sprei,steklaken,perlak dari
tempat tidur dan memasukkan ketempat alat tenun kotor
v
Menarik sprei,steklaken,perlak yang
bersih kesisi pasien yang jauh dari bidan
v
Memasang sarung bantal dan meletakkan
kebawah kepala klien
v
Melipat selimut menjadi 4 bagian secara
terbalik
v
Memasukkan lipatan teratas kebawah kasur
v
Memasang selimut ke pasien
v
Membereskan alat
v
Mencuci tangan dengan sabun dan air
mengalir,mengeringkan dengan handuk bersih dan kering
PROSEDUR KESELAMATAN KERJA:
Patuhi prosedur pekerjaan
Perhatikan keadaan umum
klien selama tempat tidurnya dirapikan
PERAWATAN LUKA
A. Pengertian
Luka
·
Menurut Mansjoer, Luka adalah keadaan hilang atau terputusnya kontinuitas jaringan.
·
Menurut InETNA, Luka adalah sebuah injuri pada jaringan yang mengganggu
proses selular normal, luka dapat juga dijabarkan dengan adanya kerusakan pada
kuntinuitas atau kesatuan jaringan tubuh yang
biasanya disertai dengan kehilangan substansi jaringan.
·
R. Sjamsu Hidayat, Luka adalah hilang
atau rusaknya sebagian jaringan tubuh yang disebabkan oleh trauma benda tajam
atau tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik atau gigitan
hewan
·
Koiner dan Taylan, Luka adalah
terganggunya (disruption) integritas normal dari kulit dan jaringan di bawahnya
yang terjadi secara tiba-tiba atau disengaja, tertutup atau terbuka,
bersih atau terkontaminasi, superficial atau dalam.
B. Tujuan
Melakukan Perawatan Luka
Tujuan untuk melakukan perawatan luka
adalah :
1.
Memberikan lingkungan yang memadai untuk
penyembuhan luka.
2.
Absorbsi drainase.
3.
Menekan dan imobilisasi luka.
4.
Mencegah jaringan epitel baru dari
cedera mekanis.
5.
Mencegah luka dari kontaminasi.
6.
Meningkatkan hemostasis dengan menekan
dressing.
7.
Memberikan rasa nyaman mental dan fisik
pada pasien.
C. Mekanisme
Terjadinya Luka
1.
Luka insisi, terjadi karena teriris oleh
instrument yang tajam. Misal yang terjadi akibat pembedahan.
2.
Luka memar, terjadi akibat benturan oleh
suatu tekanan dan dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak,
perdarahan dan bengkak.
3.
Luka lecet, terjadi akibat kulit
bergesek dengan benda lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam.
4.
Luka tusuk, terjadi akibat adanya benda,
seperti peluru atau pisau yang masuk kedalam kulit dengan diameter yang kecil.
5.
Luka gores, terjadi akibat benda yang
tajam seperti oleh kaca atau oleh kawat.
6.
Luka tembus, terjadi akibat luka yang
menembus organ tubuh, biasanya pada bagian awal luka masuk diameternya kecil
tetapi bagian ujung biasanya akan melebar.
D. Fase Penyembuhan
Luka
Proses penyembuhan
luka memiliki 3 fase yaitu fase inflamasi, proliferasi dan maturasi. Antara
satu fase dengan fase yang lain merupakan suatu kesinambungan yang tidak dapat
dipisahkan.
Fase
Inflamasi
Tahap ini muncul
segera setelah injuri dan dapat berlanjut sampai 5 hari. Inflamasi berfungsi
untuk mengontrol perdarahan, mencegah invasi bakteri, menghilangkan debris dari
jaringan yang luka dan mempersiapkan proses penyembuhan lanjutan.
Fase
Proliferasi
Tahap ini
berlangsung dari hari ke 6 sampai dengan 3 minggu. Fibroblast (sel jaringan
penyambung) memiliki peran yang besar dalam fase proliferasi.
Fase
Maturasi
Tahap ini
berlangsung mulai pada hari ke 21 dan dapat berlangsung sampai berbulan-bulan
dan berakhir bila tanda radang sudah hilang. Dalam fase ini terdapat remodeling
luka yang merupakan hasil dari peningkatan jaringan kolagen, pemecahan kolagen
yang berlebih dan regresi vaskularitas luka.
E. Penatalaksanaan
atau Perawatan Luka
Dalam manajemen perawatan luka ada beberapa
tahap yang dilakukan yaitu evaluasi luka, tindakan antiseptik, pembersihan
luka, penjahitan luka, penutupan luka, pembalutan, pemberian antiboitik dan
pengangkatan jahitan.
1.
Evaluasi luka meliputi anamnesis dan
pemeriksaan fisik (lokasi dan eksplorasi).
2.
Tindakan Antiseptik, prinsipnya untuk
mensucihamakan kulit.
Untuk melakukan
pencucian/pembersihan luka biasanya digunakan cairan atau larutan antiseptik.
3.
Pembersihan Luka
Tujuan dilakukannya
pembersihan luka adalah meningkatkan, memperbaiki dan mempercepat proses
penyembuhan luka serta menghindari terjadinya infeksi.
Beberapa langkah yang harus diperhatikan
dalam pembersihan luka yaitu :
Ø Irigasi dengan sebanyak-banyaknya dengan tujuan untuk
membuang jaringan mati dan benda asing.
Ø
Hilangkan semua benda asing dan eksisi
semua jaringan mati.
Ø
Berikan antiseptik.
Ø
Bila diperlukan
tindakan ini dapat dilakukan dengan pemberian anastesi lokal.
Ø
Bila perlu lakukan
penutupan luka.
4.
Penjahitan luka
5.
Luka bersih dan diyakini tidak mengalami
infeksi serta berumur kurang dari 8 jam boleh dijahit primer, sedangkan luka
yang terkontaminasi berat dan atau tidak berbatas tegas sebaiknya dibiarkan
sembuh.
6.
Penutupan Luka
7.
Penutupan luka adalah mengupayakan
kondisi lingkungan yang baik pada luka sehingga proses penyembuhan berlangsung
optimal.
7.
Pembalutan
8.
Pertimbangan dalam
menutup dan membalut luka sangat tergantung pada penilaian kondisi luka.
Pembalutan berfungsi sebagai pelindung terhadap penguapan, infeksi,
mengupayakan lingkungan yang baik bagi luka dalam proses penyembuhan, sebagai
fiksasi dan efek penekanan yang mencegah berkumpulnya rembesan darah yang
menyebabkan hematom.
8.
Pemberian Antibiotik
9.
Prinsipnya pada luka bersih tidak perlu
diberikan antibiotik dan pada luka terkontaminasi atau kotor maka perlu
diberikan antibiotik.
9.
Pengangkatan Jahitan
10.
Jahitan diangkat bila fungsinya sudah
tidak diperlukan lagi. Waktu pengangkatan jahitan tergantung dari berbagai
faktor seperti, lokasi, jenis pengangkatan luka, usia, kesehatan, sikap
penderita dan adanya infeksi.
INTRA VENA
Pengertian
Memberikan obat melalui suntikan kedalm pembuluh
darah vena yang dilakukan pada vena anggota gera(DEPKES RI 1995 )
Tujuan
Pemberian Obat Secara Intra Vena
1. Mempercepat
reaksi obat sehingga obat langsung masuk ke sistem sirkulasi darah .(DEPKES RI
1995 )
Indikasi
1.
Obat obat yang di berikan harus
berdasarkan program pengobatan .
2.
Sebelum menyiapkan obat suntikan .
Bacalah dengan teliti petunjuk pengobatan yang ada dalam catatan medik atau
status pasien . Yaitu nama obat , dosis , waktu , dan cara pemberiannya .
3.
Pada waktu menyiapkan obat ,bacalah
dengan teliti label atau etiket obat dari tiap – tiap obat . Obat – obat yang
kurang jelas etiketnya tidak boleh diberikan kepada pasien .
4.
Perhatikan teknik septic dan aseptic .
5.
Spuit dan jarum suntik tidak boleh
dipergunakan untuk menyuntik pasien lain sebelum disterilkan .
6.
Spuit yang retak atau bocor , dan jarum
suntik yang sudah tumpul atau berkarat atau ujungnya bengkok , tidak bolah
dipaki lagi .
7.
Memotong ampul dengan gergaji ampul
harus dilakukan secara hati – hati , agar tidak melukai tangan dan pecahnya
tidak melukai tangan dan pecahnnya tidak masuk kedalam otot .
11.
8. Pasien
yang telah mendapat suntikan harus diawasi untuk beberaapa
waktu , sebab ada kemungkinan timbul reaksi allergi dan lain – lain .
8.
Bagi pasien yang berpenyakit menular
malalui peredaran darah ( misalnya pasien hepatitis ) harus digunakan jarum dan
spuit khusus .
9.
Setiap selesai penyuntikan peralatan
harus dimasukkan ke dalam larutan desinfektan , lalu disterilakan dan disimpan
di dalam tempat khusus .(DEPKES RI 1995)
Kontra
Indikasi
1.
Pasien allergi terhadap obat (misalnya
menggigil, urticaria, shock, collaps, dan lain-lain).
2.
Pada bekas suntikan dapat terjadi
abscess, nekrose atau hematoma.
3.
Dapat menimbulkan kelumpuhan ( DEPKES RI
1995 )
1.
Persiapan
Alat
a. Sarung
tangan satu pasang
b. Spuit
steril 3 ml atau 5 ml
c. Bak
instrument
d. Kom
e. Turniquet
f. Perlak
dan alasnya
g. Bengkok
h. Wastafel
i.
Handuk lap tangan
j.
Kapas alcohol
k. Obat
injeksi dalam vial atau ampul
l.
Daftar pemberian obat
m. Larutan
chlorine 0,5%
Pasien
Pasien diberikan suntikan intra vena agar
mempercepat reaksi obat , sehingga obat bisa langsung masuk ke sistem sirkulasi
darah pasien ( Yuni Kusmiati 2007 )
Prosedur
Tindakan
1.
Beri penjelasan pada pasien
tentang prosedur yang akan dilakukan
2.
Siapkan peralatan kedekat pasien
3.
Pasang sampiran atau penutup tirai
4.
Atur posisi pasien senyaman mungkin
5.
Cuci tangan dengan sabun dan air
mengalir
6.
Pakai sarung tangan
7.
Bebaskan daerah yang akan di suntik dari
pakaian
8.
Cari daerah yang terlihat jelas venanya
9.
Pasang pengalas di bawah daerah yang
akan disuntik
10.
Ikat bagian diatas daerah yang akan di
suntik dengan karet pembendung agar vena mudah dilihat , untuk bagian lengan
anjurkan pasien mengepalkan tangan dengan ibu jari di dalam genggaman
11.
Hapushamakan daerah penyuntikan secara
sirkular menggunakan kapas alcohol 70%
12.
Tegangkan kulit dengan ibu jari dan jari
telunjuk tanagn kiri
13.
Tusukkan jarum ke dalam vena dengan
lubang jarum menghadap keatas , jarum dan kulit membentuk sudut ± 20
º
14.
Mengaspirasi
15.
Membuka Tourniquet dan anjukan pasien
membuka kepalan tangannya , masukkan obat secara perlahan – lahan
16.
Tarik jarum keluar setelah obat masuk
17.
Rapikan pasien
18.
Bereskan alat
19.
Lepas sarung tangan rendam dalam larutan
chlorine 0,5% selama 10 menit
20.
Cuci tangan dengan sabun dan air
mengalir serta keringkan dengan handuk
21.
Melakukan dokumentasi
Evaluasi
1. Alat
Dalam persiapan alat melakukan tindakan suntik intra
vena antara lapangan praktek dengan teori yang ada , ada beberapa alat yang
dalam praktek di lapangan tidak digunakan . Yaitu seperti sarung tangan ,
perlak dan pengalasnya serta tourniquet .
2. Pasien
Pasien diberikan suntikan intra vena agar
mempercepat reaksi obat , sehingga obat bisa langsung masuk ke sistem sirkulasi
darah pasien .
INTRA CUTAN
Definisi Injeksi IC
Memberikan obat melalui
suntikan intracutan atau intradermal adalah suatu tindakan membantu proses
penyembuhan melalui suntikan ke dalam jaringan kulit atau intra dermis. Istilah
intradermal (ID) berasal dari kata "intra" yang berarti lipis dan
"dermis" yang berarti sensitif, lapisan pembuluh darah dalam kulit.
Ketika sisi anatominya mempunyai derajat pembuluh darah tinggi, pembuluh darah
betul-betul kecil, makanya penyerapan dari injeksi disini lambat dan dibatasi
dengan efek sistemik yang dapat dibandingkan. Karena absorpsinya terbatas, maka
penggunaannya biasa untuk aksi lokal dalam kulit untuk obat yang sensitif atau
untuk menentukan sensitivitas terhadap mikroorganisme.
Injeksi intrakutan dimasukkan langsung ke lapisan epidermis tepat dibawah startum korneum. Umumnya
berupa larutan atau suspensi dalam air,
volume yang disuntikkan sedikit (0,1 - 0,2 ml). Digunakan untuk tujuan diagnosa.
Tujuan injeksi IC
1.
Pasien mendapatkan pengobatan sesuai program pengobatan dokter.
2.
Memperlancar proses pengobatan dan menghindari kesalahan dalam pemberian obat.
3.
Membantu menentukan diagnosa terhadap penyakit tertentu (misalnya tuberculin
tes).
4.
Menghindarkan pasien dari efek alergi obat (dengan skin test).
5.
Digunakan untuk test tuberkulin atau tes alergi terhadap obat-obatan tertentu.
6.
Pemberian vaksinasi.
Indikasi Injeksi IC
1.
Pasien yang membutuhkan tes alergi (mantoux tes)
2.
Pasien yang akan melakukan vaksinasi.
3.
Menegakkan diagnosa penyakit.
4.
Sebelum memasukkan obat.
Kontraindikasi Injeksi IC
1.
Pasien yang mengalami infeksi pada kulit.
2.
Pasien dengan kulit terluka.
3.
Pasien yang sudah dilakukan skin tes.
Keuntungan Injeksi IC
1.
Suplai darah sedikit, sehingga absorbsi lambat.
2.
Bisa mengetahui adanya alergi terhadap obat tertentu.
3.
Memperlancar proses pengobatan dan menghindari kesalahan dalam pemberian obat.
Kerugian Injeksi IC
1.
Apabila obat sudah disuntikkan, maka obat tersebut tidak dapat ditarik lagi.
Ini berarti, pemusnahan untuk obat yang mempunyai efek tidak baik atau toksik
maupun kelebihan dosis karena ketidakhati-hatian akan sukar dilakukan.
2.
Tuntutan sterilitas sangat ketat.
3.
Memerlukan petugas terlatih yang berwenang untuk melakukan injeksi.
4.
Adanya resiko toksisitas jaringan dan akan terasa sakit saat penyuntikan.
AMPUL DAN VIAL
Ada dua tipe utama wadah untuk
injeksi yaitu dosis tunggal dan dosis ganda. Wadah dosis tunggal yang paling
sering digunakan adalah ampul dimana kisaran ukurannya dari 1-100 ml. pada
kasus tertentu, wadah dosis ganda dan sebagainya berupa vial serum atau botol
serum. Kapasitas vial serum 1-50 ml, bentuknya mirip ampul tetapi disegel
dengan pemanasan. Ditutup dengan penutup karet spiral. Botol serum juga dapat
sebagai botol tipe army dengan kisaran ukuran dari 75-100 ml dan memiliki mulut
yang lebar dimana ditutup dengan penutup karet spiral. Labu atau tutup yang
lebih besar mengandung 250-2000 ml, digunakan untuk cairan parenteral yang
besar seperti NaCl isotonis.
1. Gelas
Gelas digunakan untuk sediaan parenteral dikelompokkan
dalam tipe I, Tipe II, dan Tipe III (tabel 8). Tipe I adalah mempunyai derajat
yang paling tinggi, disusun hampir ekslusif dan barosilikat (silikon dioksida),
membuatnya resisten secara kimia terhadap kondisi asam dan basa yang ekstrim.
Gelas tipe I, meskipun paling mahal, ini lebih disukai untuk produk terbanyak
yang digunakan untuk pengemasan beberapa parenteral. Gelas tipe II adalah gelas
soda-lime (dibuat dengan natrium sulfit atau sulfida untuk menetralisasi
permukaan alkalinoksida), sebaliknya gelas tipe III tidak dibuat dari gelas
soda lime. Gelas tipe II dan III digunakan untuk serbuk kering dan sediaan
parenteral larutan berminyak. Tipe II dapat digunakan untuk produk dengan pH di
bawah 7,0 sebaik sediaan asam dan netral. USP XXII memberikan uji untuk
tipe-tipe gelas berbeda.
Formulator harus mengetahuidan sadar bahwa
masing-masing tipe gelas adalah berbeda dan level bahan tambahannya (boron, sodium,
potassium, kalsium, besi, dan magnesium) yang berefek terhadap sifat kimia dan
fisika. Oleh karena itu, formulator sebaiknya mempunyai semua informasi yang
diperlukan dari pembuatan gelas untuk memastikan bahwa formulasi gelas adalah
konsisten dan dari batch dan spesifikasi bahan tambahan adalah konsisten
ditemukan.
Gelas untuk parenteral volume kecil – Tabel 8
Tipe
|
Definisi Umum
|
Test USP
|
Batas
|
|
Ukuran (ml)
|
ml 0,02 N asam
|
|||
I
|
Paling resisten, gelas borosilikat
|
Gelas serbuk
|
Semua
|
1,0
|
II
|
Gelas dibuat dari soda lime
|
Attack water
|
100 atau kurang
lebih 100
|
0,7
0,2
|
III
|
Gelas soda lime
|
Gelas serbuk
|
Semua
|
8,5
|
IV
|
Gelas soda lime-tujuan umum
|
Gelas serbuk
|
Semua
|
15,0
|
Wadah gelas ambar digunakan untuk produk yang sensitif
terhadap cahaya. Warna ambar dihasilkan dengan penambahan besi dan mangan
oksida untuk formulasi gelas. Namun demikian, dapat leach ke dalam formulasi
dan mempercepat reaksi oksidasi.
2. Karet
Formulasi karet digunakan dalam sediaan parenteral
volume kecil untuk penutup vial dan catridge dan penutup untuk pembedahan.
Formulasi ini betul-betul kompleks. Tidak hanya mereka mengandung basis polimer
karet, tetapi juga banyak bahan tambahan seperti bahan pelunak, pelunak,
vulkanishing, pewarna, aktivator dan percepatan, dan antioksidan. Banyak
bahan-bahan tambahan ini tidak dikarakteristikkan untuk isi atau pemurnian dan
dapat bersumber dari masalah degradasi fisika dan kimia dalam produk
parenteral. Seperti gelas, formulator harus bekerja dengan tertutup dengan
pembuat karet untuk memilih formulasi karet yang tepat dengan spesifikasi tetap
dan karakteristik untuk mempertahankan kestabilan produk.
Paling banyak polimer karet digunakan dalam penutup
sediaan parenteral volume kecil adalah alami dan butil karet dengan silikon dan
karet neopren digunakan jarang. Butil karet lebih disukai karena ini diinginkan
sedikit bahan tambahan, mempunyai penyerapan uap air rendah (oleh karena itu,
baik untuk serbuk kering steril sensitif terhadap kelembaban) dan sifat
sederhana dengan penghormatan penyerapan gas dan reaktivitas dengan produk
farmasetik.
Masalah dengan penutup karet termasuk leaching bahan
ke dalam produk, penyerapan bahan aktif atau pengawet antimikroba oleh
elastomer dan coring karet oleh pengulangan insersi benang. Coring menghasilkan
partikel karet yang berefek terhadap kualitas dan keamanan potensial produk.
Silikonisasi penutp karet adalah umum dilakukan untuk
memfasilitasi pergerakan karet melalui peralatan sepanjang proses dan peletakan
ke dalam vial. Akan tetapi, silikon tidak bercampur dengan obat hidrofilik,
khususnya protein. Kontak yang luar biasa dengan karet tersilikonisasi dapat
menghasilkan agregasi protein. Pembuatan elastomer mempunyai perkembangan
formulasi yang tidak menginginkan penggunaan silikon untuk menggunakan dalam
operasi produksi kecepatan tinggi.
3. Plastik
Pengemasan plastik adalah sangat penting untuk bentuk
sediaan mata yang diberikan oleh botol plastic fleksibel, orang yang
bersangkutan memeras untuk mengeluarkan tetesan larutan steril, suspensi atau
gel. Wadah plastic parenteral volume kecil lain dari produk mata menjadi lebih
luas dipakai karena pemeliharaan harga, eliminasi kerusakan gelas dari
kenyamanan penggunaan. Seperti formulasi karet, formulasi plastik dapat
berinteraksi dengan produk, menyebabkan masalah fisika dan kimia. Formulasi
plastik adalah sedikit. Kompleks daripada karet dan cenderung mempunyai
potensial lebih rendah untuk bahannya. Paling umum digunakan plastik polimer
untuk sediaan mata adalah polietilen densitas rendah. Untuk sediaan parenteral
volume kecil yang lain, formulasi polyolefin lebih luas digunakan sebaik
polivinil klorida, polipropilen, poliamida (nilon), polikarbonat dan kopolimer
(seperti etilen-vinil asetat).
Tabel 9- Komponen karet Dapat Diautoklaf
Digunakan Dalam
Sediaan Parenteral Volume Kecil
Tipe
|
Bahan Tambahan
|
Penyerapan Uap Air
|
Reaksi Potensial Dengan Produk
|
Butil
|
Sederhana
|
Rendah
|
Sederhana
|
Natural
|
Tinggi
|
Sederhana
|
Tinggi
|
Neupren
|
Tinggi
|
Sederhana
|
Tinggi
|
Polisopren
|
Tinggi
|
Sederhana
|
Sederhana
|
Silikon
|
Sederhana
|
Sangat tinggi
|
Rendah
|
Cara
Penyegelan Ampul
Ampul dapat ditutup dengan melelehkan bagian gelas
dari leher ampul sehingga membentuk segel penutup atau segel tarik. Segel penutup dibuat dengan melelehkan sebagian gelas pada bagian atas leher
ampul bulatan gelas dan menutup bagian yang terbuka. Segel tarik dibuat dengan
memanaskan leher dari suatu ampul yang berputar di daerah ujungnya kemudian
menarik ujungnya hingga membentuk kapiler kecil yang dapat diputar sebelum
bagian yang meleleh tersebut ditutup.
Cara Pengisian Ampul.
Untuk pengisian ampul, jarum
hipodermik panjang adalah penting karena lubangnya kecil. Jarum harus
dimasukkan ke dalam ampul sampai di bawah. Leher ampul, tetapi tidak cukup jauh
untuk masuk ke dalam larutan yang dimasukkan ke dalam ampul. Jarum harus
dikeluarkan dari ampul tanpa menggunakan tetes larutan pada dinding primer dari
leher ampul. Metode ini digunakan untuk mencegah pengurangan dan pengotoran
jika ampul disegel.
INJEKSI
INTRAMUSKULER ( IM )
Pengertian : Intramuskuler
(i.m),Rute IM memungkinkan absorbsi obat yang lebih cepat daripada rute SC
karena pembuluh darahlebih banyak terdapat di otot. Bahaya kerusakan jaringan
berkurang ketika obat memasuki otot yangdalam tetapi bila tidak berhati-hati
ada resiko menginjeksi obat langsung ke pembuluh darah. Denganinjeksi di dalam
otot yang terlarut berlangsung dalam waktu 10-30 menit. Guna
memperlambatreabsorbsi dengan maksud memperpanjag kerja obat, seringkali
digunakan larutan atau suspensi dalamminyak, umpamanya suspensi penisilin dan
hormone kelamin.
Tujuan :
pemberian obat dengan absorbsi lebih cepat dibandingkan dengan subcutan
Lokasi yang digunakanuntuk
penyunikan
Ø Deltoid/lengan
atas
Ø Dorso
gluteal/otot panggul
Ø Vastus
lateralis
Ø Rektus
femoralis
Ø Daerah
tersebut diatas digunakan dalam penyuntikan dikarenakan massa otot yang besar,
Ø vaskularisasi
yang baik dan jauh dari syaraf
Persiapan alat :
1. Handscoon
1 pasang
2. Spuit
steril 3 ml atau 5 ml atau spuit imunisasi
3. Bak
instrument
4. Kom
berisi kapas alcohol
5. Perlak
dan pengalas
6. Bengkok
7. Obat injeksi
dalam vial atau ampul
8. Daftar
pemberian obat
9. Kikir
ampul bila diperlukan
10.
waskom larutan klorin 0,5 %
11.
tempat cuci tangan
12.
handuk/lap tangan
13. kapas
alkohol
Pelaksanaan
:
a Fase orientasi
1. Salam
terapeutik
2. Evaluasi/
validasi
3. Kontrak
b. Fase kerja
Ø Siapkan
peralatan ke dekat pasien
Ø 2.
Pasang sketsel atau tutup tirai untuk menjaga privasi
pasien
3. Cuci tangan
3. Cuci tangan
Ø Mengidentifikasi
pasien dengan prinsip 5 B (Benar obat, dosis, pasien, cara pemberian dan
Ø waktu)
Ø Memberitahukan
tindakan yang akan dilakukan
Ø Letakkan
perlak dan pengalas dibawah daerah yang akan di injeksi
Ø Posisikan
pasien dan bebaskan daerah yang akan disuntik dari pakaian pasien
Ø Mematahkan
ampula dengan kikir
Ø Memakai
handscoon dengan baik
Ø Memasukkan
obat kedalam spuit sesuai dengan advice dokter dengan teknik septic dan
Ø Aseptic
Ø Menentukan
daerah yang akan disuntik
Ø Memasang
pengalas dibawah daerah yang akan disuntik
Ø Hapushamakan
daerah penyuntikan secara sirkuler menggunakan kapas alcohol 70% tunggu sampai kering
Ø Mengangkat
kulit sedikit dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri (tangan yang tidak
dominant)
Ø Baca
basmallah dan Tusukkan jarum ke dalam otot dengan jarum dan kulit membentuk
sudut 90̊
Ø Lakukan
aspirasi yaitu tarik penghisap sedikit untuk memeriksa apakah jarum sudah masuk
kedalam pembuluh darah yang ditandai dengan darah masuk ke dalam tabung spuit
(saat aspirasi jika ada darah berarti jarum mengenai pembuluh darah, maka cabut
segera spuit dan ganti dengan spuit dan obat yang baru). Jika tidak keluar
darah maka masukkan obat secara perlahan-lahan
Ø Tarik
jarum keluar setelah obat masuk (pada saat menarik jarum keluar tekan bekas
suntikan dengan kapas alcohol agar darah tidak keluar)
Ø Lakukan
masase pada tempat bekas suntikan (pada injeksi suntikan KB maka daerah bekas
injeksi tidak boleh dilakukan masase, karena akan mempercepat reaksi obat,
sehingga menurunkan efektifitas obat.
Ø Rapikan
pasien dan bereskan alat (spuit diisi dengan larutan chlorine 0,5% sebelum
dibuang)
Ø Lepaskan
sarung tangan rendam dalam larutan chlorine
Ø Cuci
tangan
c. Fase terminasi
Ø Evalusi
respon klien terhadap tindakan yang dilakukan
Ø Rencana
tindak lanjut
Ø Kontrak
yang akan datang
MAKALAH
KEBUTUHAN DASAR MANUSIA
ORAL
HYGIENE
Menurut
Potter dan Perry, sikap seseorang melakukan hygiene dipengaruhi oleh beberapa
faktor, yaitu :
1. Citra tubuh
Penampilan umum klien dapat menggambarkan pentingnya
hygene pada orang tersbut. Citra tubuh merupakan konsep subjektif seseorang
tentan penampilan fisiknya. Citra tubuh mempengaruhi cara mempertahankan
hygiene. Seorang klien yang menjaga dan mempertahankan hygiene mulut, terlihat
dari fisik mulutnya. Maka perawat mempertimbangkan rincian cara hygiene mulut
dan berkonsultasi pada klien sebelum membuat keputusan bagaimana memberikan
peralatan hygien mulut.
2. Praktik sosial
Kelompok-kelomp sosial wadah seorang klien
berhubungan dapat mempenaruhi praktik hygiene pribadi. Selama masa kanak-kanak,
mendapatkan praktik hygiene dari orang tua mereka bagaimana cara menjaga
kebersihan mulut.
3. Status sosial
ekonomi
Sumber daya ekonomi seseorang mempengaruhi jenis dan
tingkat praktik kebersihan yang digunakan. Ketersediaan alat untuk hygiene
mulut juga dipengaruhi oleh ekonomi.
4. Pengetahuan
Pengetahuan tentang pentingnya hygiene dan
implikasiny bagi kesehatan mempengaruh praktik hygiene. Seorang klien yang
tidak punya banyak pengetahuan tentang pentingnya hygiene mulut
kemungkinan malas untuk menjaga dan mempertahankan kebersihan mulutnya.
5. Kebudayaan
Kepercayaan kebudayaan klien dan nilai pribadi
mempengaruhi peawatan hygiene. Orang dari latar kebudayaan yang berada
mengikuti praktik keperawatan diri yang berbeda pula. Di asia oral hygiene
dipndang penting bagi kesehatan.
6. Kesukaan
Setiap klien memiliki keinginan individu yang
berbeda. Misalnya kapan ia akan menggosok gigi, kapan ia akan berkumur dan
melakukan oerawatan mulut dan gigi. Klien juga memilih produk yang berbeda
seperti sikat gigi, pasta gigi, obat berkumur, vitamin bibir, dll.
7. Status sosial
Orang yang mendeita penyakit tertentu seperti kanker
tahap lanjut atau menjalani operasi sering kali kekurangan energi fisik atau
ketangkasan untuk melakukan oral hygiene.
8. Tingkat
perkembangan
Proses belajar melakukan hygiene mulut yang
dilakukan sejak kanak-kanak hingga bisa melakukan oral hygien sendiri, seperti
menggosok gigi dan menjag kebersihan mulut, berlanjut hingga remaja dewasa
kemudian lansia.
D. Kelainan
Mulut
merupakan suatu tempat yang amat ideal bagi perkembangan bakteri. Bila tidak
dibersihkan degan sempurna, sisa makanan yang terselip bersama bakteri akan
tetap melekat pada gigi dan akan bertambah banyak dan membentuk koloni yang
disebut plak yaitu lapisan film tipis, lengket dan tidak berwara. Plak
merupakan tempat pertumbuhan ideal bagi bakteri yang dapat memproduksi asam.
Jika tidak disingkirkan dengan melakukan perawatan gigi, asam tersebut akhirnya
akan menghancurkan email gigi yg menyebabkan gigi berlubang. Adapun kelainan
atau penyakit mulut dan gigi antara lain:
1. Stomatitis
Kondisi peradangan pada mulut karena kontak dengan
pengiritasi definisi vitamin, infeksi oleh bakteri, virus atau jamur atau
penggunaan obat kemoterapi.
2. Glosititis
Peradangan lidah karena infeksi atau cidera, seperti
luka bakar atau gigitan.
3. Gingivitis
Peradangan gusi akibat oral hygiene yang buruk,
definisi vitamin atau diabetes militus. Perawatan mulut khusus merupakan
keharusan apabila klien memiliki masalah oral ini. Perubahan mukosa mulut yang
berhubungan dengan mudah mengarah kepada malnutrisi.
4. Bau mulut
Bau mulut dapat disebabkan oleh faktor internal dan
eksternal. Faktor internal biasanya disebabkan oleh penyakit sistemik yang
merupakan tanda-tanda adanya masalah kesehatan lain, seperti diabetes militus.
Kelainan pada saluran pencernaan atau pernafasan, penyakit-penyakit pada
kerongkongan. Sedangkan faktor eksternal disebabkan oleh jenis makanan yang
dimakan seperti pengaruh minuman kopi, alkohol, makanan berbumbu bawang putih,
atau bawang merah. Faktor pembersih gigi yang tidak optimal dan faktor
kandungan yang ada didalam rokok bagi perokok. Mulut yang kering karena kurang
minum air juga merupakan konstributor penyebab masalah bau mulut. Karena
itulah, ketika bangun tidur dipagi hari bau mulut kita juga kurang sedap, yang
segera hilang setelah sikat gigi dan minum air putih.
PENGKAJIAN
Mulut untuk mendeteksi tanda kesehata secara umum,
menentukan kebutuhan oral hygiene dan menetukan terapi perawatan untuk klien
dengan dehidrasi, asupan terbatas, trauma oral atau jalan nafas oral. Untuk
mengkaji rongga oral, perawat menggunakan senter dan spatel lidah atau kasa
tunggal segi 4. Sarung tangan harus dipakai selama pemeriksaan. Selama
pemeriksasan klien dapat duduk berbarin. Pengkajian rongga oral dapat dilakukan
selama pemeriksaan hygiene oral.
a. Bibir
Bibir dikaji terhadap kondisi warna, tekstur,
hidrasi, konturnya serta adanya lesi. Deengan mulut klien yang tertutup,
perawat dapat melihat bibir dari ujung ke ujung. Normalnya bibir berwara merah
muda, lembab, simetris da halus.
b. Mukosa bukal,
gusi dan gigi
Perawat melakukan inspeksi dengan meminta pasien
mengatupkan gigi dan tersenyum. Manufer tersebut memungkinkan dilakukan
pengkajian oklusi gigi.
c. Lidah
dan dasar mulut
Lidah di inspeksi dengan cermat pada semua sisi dan
bagian dasar mulut di periksa. Terlebih dahulu klien merilekskan mulut dan
sedikit menjulurkan lidah keluar. Perawat mencatat adanya penyimpangan tremor
atau keterbatasan gerak.
Diagnosa keperawatan
a. Terinveksi
gingivitis, yang disebabkan oleh angina atau semacam penyakit mulut.
b. Periodontitis,
peradagan gusi yang lebih menyolok yang melibatkan juga jaringan ceruk gigi
(alveola) yang biasa disebut pyorrhea.
Perencanaan
a. Menganjurkan
dan menuntun pasien untuk rajin merawat mulut dan gigi
b. Berkumur
dengan air setelah membersihkan sela-sela gigi untuk mengeluarkan
partikel-partikel makanan dan plak.
c. Menganjurkan
dan menuntun pasien untuk menyikat gigi dan berkumur
Implementasi
a. Membersihkan
lidan dengan menggunakan kain kasa yang dijepit klem
b. Mengoleskan
obat atau vitamin pelembut kulit pada bibir.
c. Menuntun
pasien untuk menggosok gigi secara rutin.
d. Menuntun
pasien untuk berkumur agar m,ulut bersih dari bakteri dan plak.
e. Mengajarkan
klien untuk mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin c dan menyehatkan
mulut.
Evaluasi
Agar kita mengerti bagaimana merawat kesehatan mulut
dan betapa pentingnya merawat kesehatan mulut.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)